Kisah Penemuan Kembali Aksara yang Hilang
Keberadaan Aksara Bima adalah bukti peradaban tulis yang kaya di Tanah Bima, jauh sebelum pengenalan aksara Arab-Melayu pada abad ke-17. Namun, tradisi tulis ini sempat terlupakan selama ratusan tahun, membantah anggapan bahwa Bima tidak memiliki tradisi tulis pra-Islam.
Upaya menghidupkan kembali aksara ini dipelopori oleh Hj. Siti Maryam R. Salahuddin. Pada tahun 1987, beliau menemukan kembali dokumen "Alfabet Bima" di Perpustakaan Nasional RI. Dokumen tersebut merupakan lampiran dari laporan perjalanan peneliti Belanda, Heinrich Zollinger, yang mengunjungi Bima dan Sumbawa pada tahun 1847. Dokumen ini menampilkan varian aksara dengan gaya geometris yang tegas.
Varian lain dari aksara ini juga tercatat lebih awal dalam buku monumental "The History of Java" (1817) oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang menampilkan aksara dengan gaya yang lebih melengkung dan organik. Dari kedua temuan inilah, terungkap dua "wajah" Aksara Bima yang kini dapat kita pelajari kembali.
Informasi diringkas dari buku "Aksara Bima: Peradaban Lokal yang Sempat Hilang" (2021) oleh Hj. St. Maryam R. Salahuddin, dkk.
Dua Varian Utama Aksara Bima
Aksara Bima Baru
Gaya geometris (berdasarkan temuan Zollinger)
Aksara Bima Lama
Gaya melengkung (berdasarkan catatan Raffles)
Contoh Penerapan dalam Konteks
Catatan Tampilan Aksara
Pastikan font "BimaBaru" dan "BimaRaffles" telah terinstal di perangkat Anda untuk tampilan yang benar. Jika belum, unduh melalui halaman Info & Unduh Font.